BUS MEWAH Pameran GIIAS ICE - BSD

Saturday, 20 February 2016

Kota Juang Diantara Berjuta Kisah Terpendam



  IN UTAMA
* Menyingkap Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Bireuen. Laporan : Bahrul Walidin-Bireuen
Muspida Bireuen menabur bunga di makam Kolonel Hoessein Yoesoef di pemakamam keluarga, Gampong Geuleumpang Payong, Minggu (17/8). (Rakyat Aceh/Bahrul Walidin)
Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 69 di Kabupaten Bireuen, tahun ini, berlangsung dalam suasana berbeda. Selain upacara penaikan maupun penurunan bendera yang berlangsung khidmat, serta diikuti ribuan peserta dari kalangan PNS, TNI, Polri, Ormas dan pelajar.
Muspida bersama ratusan jajaran yang berziarah ke makam Kolonel H Hossein Yoesoef di Gampong Geuleumpang Payong, Kecamatan Jeumpa, Minggu (17/8). Ini merupakan ritual untuk melengkapi momentum sejarah dalam mengenang masa awal kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.
Betapa tidak, Aceh yang dikenal sebagai daerah modal kala masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan, dari belenggu penjajahan. Tercatat pernah memberi konstribusi besar bagi perjuangan bangsa Indonesia.
Bahkan, Bireuen yang merupakan basis para pejuang ketika itu, kala menjadi ibu kota RI ke 3 saat Presiden Soekarno memimpin pemerintahan selama sepekan pada Juli 1948 silam. Menjadi bukti sejarah yang nyaris terpendam, seiring perjalanan waktu selama puluhan tahun.
Keberadaan Radio Rimba Raya yang membuka mata dunia, melalui siaran dalam lima bahasa, mengabarkan bahwa rakyat masih berjuang untuk melawan penjajahan di bumi Indonesia.
Sehingga, propaganda penjajah Belanda yang mendapat dukungan tentara sekutu, yang mengaku sudah menguasai seluruh wilayah nusantara akhirnya terbantahkan melalui kabar yang disiarkan hingga ke berbagai penjuru dunia.
Lalu, keberadaan Komandemen IX Aceh-Sumut di Bireuen, dikomandoi Kolonel H Hoessein Yoesoef yang bermarkas di pendopo Bireuen. Merupakan bukti semangat perjuangan rakyat Aceh, menyingkirkan tirani kafir penjajah.
Pasukan dengan jumlah besar dan peralatan militer lengkap, milik tentara Jepang yang ditinggalkan di gudang senjata pada kawasan Kecamatan Juli, menjadi modal utama kekuatan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) kala itu.
Meskipun ribuan pejuang syahid di medan perang, baik saat perlawanan memerangi Belanda maupun tentara sekutu, di Aceh hingga upaya menghadang penjajah di Langkat. Namun, tak pernah menyurutkan semangat tentara rakyat yang bermarkas di Bireuen, untuk mengenyahkan penjajahan di tanah rencong.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Militer Aceh, Tgk Daud Beureuh dan Panglima Komandemen IX, Kolonel H Hossein Yoesoef. Akhirnya serambi Mekkah menjadi daerah aman, sehingga Presiden Soekarno yang menggunakan pesawat Dakota, berkunjung ke Bireuen serta menjalankan roda pemerintahan RI dari wilayah ini.
Sekelumit kisah itu, merupakan awal kebangkitan perjuangan rakyat dan bangsa dari ujung barat Indonesia. Ketika merebut serta mempertahankan kemerdekaan RI yang diperingati setiap 17 Agustus.
Selain peninggalan sejarah yang masih tersisa, Kabupaten Bireuen juga ditabalkan sebagai Kota Juang. Tapi meski berjuta kisah dan situs sejarah yang ada, telah membuktikan konstribusi pejuang Aceh demi terwujudnya keutuhan NKRI. Namun kini, semua itu seolah terlupakan seiring perjalanan bangsa ini dengan segala hiruk pikuk perpolitikan nasional.
Menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 69 tahun ini, Pemerintah Kabupaten Bireuen bertekad untuk menyingkap kembali seluruh catatan sejarah itu. Karena kisah heroisme tersebut harus selalu dikenang, sebagai bentuk penghargaan bagi pahlawan yang telah berjuang serta berkorban demi bangsa dan negara ini.
Menandai babak baru keinginan pemerintah daerah, untuk mengungkap sejarah yang terpendam itu. Bertepatan dengan momentum peringatan HUT RI tahun ini, Bupati H Ruslan M Daud bersama muspida serta ratusan jajaran PNS, TNI, Polri dan masyarakat. Berziarah ke makam Kolonel H Hoessein Yoesoef di Geuleumpang Payong, beberapa saat usai upacara bendera dan kunjungan ke Rutan Bireuen kemarin.
Selanjutnya, menziarahi makam Mayor Yoesoef atau yang dikenal Yusuf Tank di Gampong Juli Keudee Dua, Kecamatan Juli. Sosok komandan pasukan Tank itu, merupakan mantan teknisi alat berat yang dipekerjakan oleh tentara Jepang.
Namun akhirnya dia berbelot dan mengomandoi pasukan kavaleri, serta mengajarkan tehnik menggunakan perlengkapan militer itu kepada pejuang. Setelah Jepang meninggalkan persenjataan mereka yang disimpan pada gudang logistik di kawasan Juli.
Bupati Bireuen, H Ruslan M Daud kepada koran ini usai berziarah kemarin menuturkan. Pihaknya bertekad untuk mengungkap kembali berbagai kisah dan sejarah di wilayah itu, khususnya terkait historis sebagai kota perjuangan yang berkontribusi besar bagi kemerdekaan RI. Menurutnya, hal tersebut patut jadi perhatian serius semua pihak, guna menghargai perjuangan dan pengorbanan pejuang di masa lalu.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai usaha dan perjuangan para pahlawannya. Kami berkomitmen untuk melestarikan sejarah ini, agar tidak terkubur serta diketahui hingga anak cucu kita nanti,” ungkapnya.
Dia mengaku, Pemkab Bireuen kini terus berupaya mengangkat kembali sejarah ini, sehingga diketahui publik secara luas. Bahkan, sampai ke tingkat nasional supaya dapat menjadi referensi bagi seluruh lapisan masyarakat tanah air. Mengingat berkat perjuangan pahlawan dari Kota Juang, akhirnya Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat.
“Insya Allah semua situs sejarah yang tersisa, akan dipugar dengan baik. Termasuk kami meyakinkan pemerintah pusat, untuk berperan memelihara dan melestarikan nilai-nilai sejarah yang ada di Kabupaten Bireuen,” sebutnya.
Menurut Ruslan, pemkab telah merancang berbagai rencana pemugaran sejumlah lokasi sejarah di Bireuen. Termasuk makam para tokoh pejuang yang berjasa dalam mewujudkan kemerdekaan RI, sehingga kelak menjadi salah satu obyek wisata yang dikunjungi oleh penziarah dari berbagai lapisan masyarakat.
Selain monumen penting lainnya yang dibangun untuk mengenang Kota Juang, sebagai daerah perjuangan di Indonesia.(**)

No comments:

Post a Comment