BUS MEWAH Pameran GIIAS ICE - BSD

Saturday, 3 September 2016

RADIO RIMBA RAYA ACEH DAN PAHLAWAN DI BALIK LAYAR


Home » Wisata Aceh » Radio Rimba Raya Aceh dan Pahlawan di Balik Layar

Dahulu, Soekarno selalu mengelukan simbol “jas merah” nya sebagai pengingat kepada generasi muda untuk jangan sesekali melupakan sejarah bangsanya sendiri, bangsa Indonesia. Namun tanpa diminta pun, sejarah yang dikenang oleh beberapa generasi yang lahir akan terus terkikis sedikit demi sedikit hingga meninggalkan puing cerita yang tak lagi diketahui kebenaran yang sebenarnya.
Begitupun dengan sejarah Radio Rimba Raya dan siapakah tokoh penting di balik layar yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari ini orang Aceh hanya akan mengingat jasa siaran radio ini yang berhasil lepas dari fitnah pemberitaan Belanda yang menyatakan bahwa Indonesia telah kalah saat itu. Namun, kita tidak pernah mengetahui siapa tokoh di balik siaran radio tersebut, yang begitu berani untuk menyeledupkan peralatan siar ke Aceh dan berani menyiarkan kabar kebenaran tentang Indonesia hingga ke penjuru dunia. Walaupun secara nilai kebangsaan di antara mereka ada yang bukan merupakan warga negara asli Indonesia, namun tanpa jasa mereka mustahil kemerdekaan Indonesia ini bisa kita cicipi seperti saat ini.

Tugu Rimba Raya, Monumen Mengenang Peranan Radio Rimba Raya.
1. John Lie VS Nip Xarim
Kedua tokoh ini masih menjadi sosok kotroversi mengenai siapa yang awalnya berhasil menyeledupkan alat pemancar radio hingga sampai ke Aceh kala itu. Ali Hasyim, dan TA Talsya menyebutkan bahwa John Lie, seorang pahlawan nasional keturunan Tionghoa asal Manado yang berhasil menyeledupkan alat tersebut menjelang Agresi Belanda I pada bulan Juli 1947 melalui Singapura dan melewati jalan laut hingga sampai ke Sungai Yu, Aceh Timur.
Dari beberapa cerita mengatakan bahwa John Lie berhasil mengalihkan perhatian tentara Belanda yang tengah berpatroli dengan membawa dua speedboat. Satu speedboat berisi bahan makanan, dan satu speedboat lagi berisi alat pemancar radio. Demi meninggalkan kesan curiga kepada para tentara Belanda, ia melajukan speedboat yang berisi bahan makanan dengan kencang sehingga tentara Belanda curiga dan mengejar speedboat tersebut. Sedangkan speedboat yang berisi alat pemancar radio selamat sampai ke tujuan.

John Lie sang penyeludup hebat. Photo by[historiadotid]
Versi lainnya menyebutkan bahwa yang menyeludupkan alat pemancar radioa Rimba Raya adalah Nip Xarim, yang merupakan Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang saat itu berkedudukan di Pangkalan Brandan. Ia membeli perangkat tersebut di Malaya bersama Dr. Soufyan dan menyimpannya di Pangkalan Brandan. Justru Nip Xarim membeli peralatan ini jauh sebelum Agresi Belanda I pada tahun 1947 terjadi. Yang membenarkan hal ini adalah Drs. Muhammad TWH. Anggota Divisi X, Syarifuddin Thaib, yang juga Wakil Ketua/Ajudan Komandan Divisi X Kolonel M. Hoesein Yoesoef, dan John Ekel, serta anggota Divisi X dalam buku “Peranan Radio di Masa Kemerdekaan di Sumatera Utara“, serta Mukhtar Ibrahim selaku sejarawan UGM.
2. Abdullah Inggris
Dialah John Edward, salah seorang tentara Inggris (sekutu) berpangkat Letnan yang membelot ke pihak Republik Indonesia (RI) yang kemudian dikenal dengan nama Abdullah Inggris. Di lah orang menyiarkan tentang kedudukan Indonesia yang belum runtuh saat itu ke seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan kekuatan frekuensi radio 19, 25 dan 61 meter, serta kekuatan pemancar 300 watt telefoni. Ia menjadi anggota penerangan Tentara Divisi X dan penyiar dalam bahasa Inggris di Radio Rimba Raya. Kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten dan adakalanya dia menjadi Ajudan Komandan Divisi X Kolonel Husin Yusuf.
Menurut Abidin Hasyim, dkk dalam buku Aceh Daerah Modal (2009) menyatakan bahwa pada tanggal 19 Desember 1948 melalui Radio Belanda Hilversum, Radio Belanda di Batavia dan Medan mengumumkan bahwa Republik Indonesia telah runtuh, kota-kota utama telah dikuasai dan pemimpin Indonesia telah ditawan. Sontak pemberitaan tersebut membuat warga Indonesia percaya, padahal pada kenyataannya itu hanyalah manipulasi Belanda agar Indonesia benar-benar jatuh saat itu.
Lantas, muncullah Radio Rimba Raya yang menggunakan signal calling Radio Divisi X, Radio Republik Indonesia, Suara Indonesia Merdeka yang segera menjawab:
“Republik Indonesia masih ada. Ada daerah yaitu daerah Aceh. Masih ada pemerintahan, yaitu Pemerintah darurat Republik Indonesia yang berkedudukan di Sumatera. Ada tentara yaitu Tentara Republik Indonesia dan masih ada rakyat yaitu rakyat Indonesia”.
Bantahan dan perlawanan yang dilakukan oleh Radio rimba Raya membuat Belanda menjadi tersudut. Betapa tidak, pemancar Radio
John Edward atau yang dikenal dengan Abdullah Inggris.
Photo by: Buku Aceh Daerah Modal. 2009
Rimba Raya begitu kuat siarannya dan dapat didengar di berbagai negara Asia, Australia dan beberapa negara Eropa Barat. Tiap malam radio ini muncul di udara dalam enam bahasa yaitu Inggris, Belanda, Indonesia, Arab, Tiongkok dan Urdu.
Radio Rimba Raya juga dapat melaksanakan tugas yang amat penting, yaitu memelihara komunikasi dengan pimpinan pusat gerilya di sekitar pedalaman Yogyakarta dan Surakarta. Waktu itu hanya ada tiga pemancar gerilya yang beroperasi secara terbuka, yaitu Siaran Republik dari hutan-hutan Surakarta, Siaran Pemerintahan Darurat R.I (PDRI) dan Radio Rimba Raya yang berlokasi di antara Bireun-Takengon (sekarang bernama Bener Meriah).

Sumber:
1. Hasyim, A, dkk. Aceh Daerah Modal. 2009. Banda Aceh: Pemerintah Aceh
2. www.rimbarayaaceh.blogspot.co.id
(Visited 35 times, 1 visits today)

Melawan Lupa, Radio Rimba Raya ‘Sang Penyelamat’ Indonesia

 16 Agustus 2016
KLIKKABAR.COM, BENER MERIAH-Dimana saat itu sangat kritis. Pada tanggal 19 Desember 1948, ibukota Negara Republik Indonesia Yogyakarta dikuasai oleh Belanda. Radio Republik Indonesia (RRI) yang mengumandangkan suara Indonesia merdeka ke seluruh dunia, tiada lagi mengudara. Radio Belanda Hilversum secara lantang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah hancur dan sebagian dunia mempercayai berita itu.
Pada saat demikian gentingnya suasana, tanggal 26 Desember 1948 malam, RRR (Radio Rimba Raya) mengudara menembus angkasa memberitakan bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila masih ada dan Revolusi 1945 masih tetap menyala.
Pada pada tanggal 19 Desember 1948 Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo dalam Sidang Pertahanan Daerah, antara lain memutuskan, tanggal 26 Desember 1948 pemancar Radio yang kemudian dinamakan Radio Rimba Raya harus terus mengudara.
Tanah Aceh, daerah modal Republik Indonesia, dalam menghadapi segala peristiwa yang terjadi, mempersiapkan diri mendatangkan sebuah pemancar yang kuat dari luar negeri. Di Rime Raya inilah, akhirnya setelah mengalami proses perjalanan panjang Radio Rimba Raya bermukim dan pada tanggal 20 Desember 1948 secara berkala mulai mengudara. (Dikutip dari tulisan yang ada di Tugu Radio Rimba Raya).
“Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada. Tentera republik masih ada, wilayah republik juga masih ada dan di sini adalah Aceh”
Begitulah kira-kira pesan heroik pembakar semangat perjuangan yang disiarkan oleh awak radio menyebarkan informasi bahwa Republik Indonesia masih ada kala itu. Sejatinya RRR sangat berjasa dalam menyebarkan berita tentang kemerdekaan Indonesia. Bahkan RRR dapat diumpamakan seperti ‘sehela nafas’ yang tersisa saat nasib Indonesia sedang berada di ujung tanduk.
Seperti dikutip dari Wikipedia, Radio Rimba Raya merupakan radio masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang disiarkan langsung dari Dataran tinggi Gayo. Radio yang berdaya pancar 1 kilowatt dan bekerja pada frekuensi 19,25 dan 61 meter ini mulai mengudara sejak Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) dan tentara Belanda ditarik dari Indonesia.
Melalui radio inilah pesan–pesan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia disiarkan ke seluruh penjuru negeri. Karena Yogyakarta yang merupakan ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia kala itu telah dikuasai oleh Belanda. RRR ini memiliki panggilan sinyal yakni, Suara Radio Republik Indonesia, Suara Indonesia Merdeka, Radio Rimba Raya, Radio Divisi X, Radio Republik Indonesia.
RRR sejatinya berperan sangat besar terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia. Pada saat Belanda telah menguasai objek vital milik Indonesia dan mengumumkan lewat radio Hilversum (milik Belanda) kepada dunia, bahwa Indonesia tidak ada lagi. Tapi dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, RRR membatalkan berita tersebut dan mengatakan bahwa Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan hingga ke Australia dan Eropa. Akhirnya, akibat berita itu, banyak negara dunia dengan serta merta mengakui keberadaan dan kemerdekaan Indonesia.
Konon, ceritanya perangkat RRR itu dipesan oleh tentara Divisi Gajah I dan dibeli melalui raja penyelundup Asia Tenggara waktu itu, John Lie (seorang pahlawan nasional, Tionghoa dari Manado) yang menjadi perantara pembelian perangkat radio tersebut menjelang Agresi Militer Belanda I, Juli 1947. Perangkat RRR itu dibeli di Malaysia dan dibawa ke kota Bireuen. Untuk mengangkut perangkat penyiaran dari Malaya ke Aceh, John Lie menggunakan dua buah speedboat dan mendarat di Sungai Yu (Aceh Tamiang).
Tapi keterangan lain menyebutkan, orang yang membeli peralatan itu adalah Nip Xarim. Sosok yang pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Gubernur Militer waktu itu dijabat oleh Tgk. HM Daud Beureueh. Nip Xarim membeli peralatan radio itu bersama Dr. Sofyan, justru sebelum Agresi Militer I 1947 dan disimpan di Pangkalan Brandan.
Sejarawan Universitas Gajah Mada, Mukhtar Ibrahim membenarkan akan hal ini. Keterangan serupa juga ditulis dalam buku “Peranan Radio di Masa Kemerdekaan di Sumatera Utara,” yang ditulis oleh Drs. Muhammad TWH. Anggota Divisi X, Syarifuddin Thaib, yang juga Wakil Ketua/Ajudan Komandan Divisi X Kolonel M. Husin Yusuf dan John Ekel, serta anggota Divisi X juga membenarkan hal ini.
Terlepas dari kontroversi siapa yang membeli peralatan pesawat tersebut, RRR selanjutnya dibawa ke Bireuen. Setelah beberapa bulan dengan pertimbangan agar bisa menyiarkan berita secara cepat dan luas, pemancar tersebut akhirnya dipindahkan ke Koetaradja (Banda Aceh) dan komponen-komponennya sempat dirangkai pada akhir tahun 1948, namun belum sempat mengudara.
Pemancarnya dipasang di kawasan Cot Gue, pegunungan sebelah selatan Banda Aceh, sebagai cadangan sewaktu-waktu bisa digunakan apabila Koetaradja direbut musuh. Studio siarannya berada di sebuah rumah peninggalan Belanda di Peunayong. Sayangnya, pemancar radio di Cot Gue sama sekali tidak pernah bisa digunakan, karena pada saat yang sama terjadi Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.
Dalam situasi yang tidak mendukung itu, Gubernur Militer Tgk. HM Daud Beureueh memerintahkan alat pemancar agar dipindahkan ke tempat lain. Maka disepakatilah Aceh Tengah sebagai daerah tujuan. Daerah ini dianggap lebih aman karena berada di wilayah pegunungan.
Peralatan radio akhirnya dibawa ke Aceh Tengah pada tanggal 20 Desember 1948, melalui sebuah perjalanan dengan pengawalan ketat dan rahasia. Daerah yang hendak dituju yaitu Burni Bies. Perjalanan menuju Tanah Gayo dilukiskan begitu dramatis. Berkali-kali rombongan terpaksa menyingkir dari jalan raya untuk bersembunyi dari kejaran Belanda yang mengintai dengan pesawat udara. Karena resiko sangat tinggi, akhirnya rencana yang semula menuju Burni Bies dialihkan ke tempat lain, yakni Rime Raya.
Pada awalnya pemancar tersebut dipasang di Krueng Simpo, lebih kurang 20 km dari Bireuen arah Takengon. Di tempat inilah akhirnya pemancar didirikan. Namun, waktu itu muncul kesulitan, tak ada mesin listrik. Ny Ummi Salamah, istri Kolonel Husin Yusuf berusaha mencarinya ke Lampahan dan Bireuen. Usaha itu gagal. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain, kabel tak cukup. Kabel dicari lagi ke Lampahan dan Bireuen, dan berhasil didapatkan.
Sender radio kemudian dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi, sehingga sukar dideteksi musuh. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio. Kolonel Husin Yusuf sendiri kemudian mendirikan rumah di Areal Pertanian Tentara Pembangunan di Rime (Rimba) Raya. Daerah itu sebelumnya bernama Desa Tanoh Ilang (Tanah Merah). Studionya berada di salah satu kamar rumah kediaman Kolonel Husin Yusuf.
Setelah melewati perjuangan berat dalam mendirikan RRR, akhirnya pada Desember 1948 RRR berhasil mengudara dan memberitakan ke seluruh dunia bahwa Republik Indonesia masih ada. Dari RRR ini para pahlawan Aceh terus mengumandangkan pesan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya untuk terus berjuang mempertahankan Indonesia dari Belanda. Selain berita kemerdekaan Republik Indonesia, RRR juga menyiarkan berita tentang kenduri akbar di Aceh.
Selain mengudara untuk kepentingan umum, radio ini juga melakukan monitor dan mengirim berbagai pengumuman dan instruksi penting bagi kegiatan angkatan bersenjata. Selain bahasa Aceh dan bahasa Indonesia, siaran RRR di tengah hutan belantara Aceh Tengah itu juga menampilkan lima bahasa asing yakni, bahasa Inggris, Belanda, Cina, Urdu dan Arab.
RRR juga menyajikan acara pilihan pendengar dengan menghidangkan nyanyian-nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang, bahkan merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia. RRR setiap hari juga melakukan kontak dengan perwakilan Republik Indonesia di New Delhi, India. Berita-berita itu selain diterima langsung oleh petugas sandi perwakilan RI di New Delhi, juga dikutip oleh All IndiaRadio dan seterusnya disampaikan ke alamat yang dituju.
Ketika Konferensi Asia tentang Indonesia digelar tanggal 20-23 Januari 1949 di New Delhi, jam kerja RRR diperpanjang mengingat banyaknya berita yang harus dikirim ke wakil-wakil Indonesia yang menghadiri konferensi tersebut. Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949 diJakarta sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.
Perangkat tua RRR itu kemudian seolah terlupakan dan teronggok di salah satu sudut ruang Museum Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Yogyakarta. Teregistrasi dengan No 60.607.318 dan tertera sebuah keterangan pendek, “Pemancar Hasil Selundupan dari Malaysia. Digunakan Oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh 1948.”
Sama sekali tidak ada keterangan lain tentang RRR di museum itu. Ironi dan menyedihkan. Padahal, RRR pernah menjadi satu-satunya penyelamat Indonesia. Tugu Radio Rimba Raya akhirnya dibangun untuk mengenang sejarah Radio Rimba Raya. Tugu ini diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Badan Urusan Logistik, Bustanil Arifin pada tanggal 27 Oktober 1987 pukul 10.30 WIB. Tugu tersebut terletak di Kampung Rime Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
Penulis sudah pernah dua kali berkunjung kesini. Pertama di tahun 2013, waktu itu paguyuban Riders Community Nanggroe (RENCONG) yang menaungi puluhan komunitas motor roda dua di Aceh, mengadakan acara bakti sosial dan kegiatan rutin tahunan Kibar Merah Putih Ke V Tahun 2013. Pengalaman yang kedua, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2016 kemarin sepulang dari Takengon. Kondisi Tugu Radio Rimba Raya kini kondisinya semakin tak terurus. Banyak coretan di sana-sini serta cat dan bangunan penunjang lainnya sudah lapuk dimakan usia. Bahkan, bagian atas tugu sudah retak dan hampir roboh karena gempa yang mengguncang kawasan tersebut beberapa tahun yang lalu.
Saksi bisu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia itu kini terdiam di tengah belantara hutan Gayo. Tentu kita sangat berharap agar Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat dapat menjadikan lokasi daerah Tugu RRR menjadi wisata sejarah dengan ditunjang oleh fasilitas yang memadai. Dan melalui semangat 17 Agustus, kita juga berharap semoga para petinggi negeri ini tidak luput memperhatikan Tugu RRR sebagai aset bangsa yang sangat berharga nilainya. Semoga.
REPORTER : ZAMZAMI ALI

Malam Resepsi Disuguhkan Film Dokumenter Radio Rimba Raya

Posted By: Uploader Posted date: In: Aceh No Comments

Bireuen,beritalima  — Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menyuguhkan tayangan film dokumenter sejarah Radio Rimba Raya di malam resepsi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-71, Rabu (17/8) sekira pukul 20:00 WIB
          Pemutaran film dokumenter sejarah Radio Rimba Raya terselenggara atas prakarsa Kepala Bagian Humas dan Protokoler Setdakab Bener Meriah,  Irmansyah, S.SSTP yang menginginkan generasi muda mengetahui akan pentingnya sejarah Radio Rimba Raya.
          Ide cemerlang Irmansyah tersebut mendapat apresiasi dari kepala daerah Kabupaten Bener Meriah, hal tersebut terbukti dengan pemberian penghargaan dari Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh kepada sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya Ikmal Gopi, serta saksi sejarah Radio Rimba Raya Reje Mude Tukiran Aman Jus yang sengaja di hadirkan oleh Kabag Humas dan Protokoler Setdakab Bener Meriah dimalam resepsi tersebut.
“Hut RI tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya menilai penyelenggaraan HUT RI ke-71 ini berjalan lancar dan sukses, saya beri apresiasi kepala panita pelaksana. Saya juga merasa bangga kepala pasukan Paskibraka serta pelatih yang menjalankan tugasnya tanpa sedikitpun ada kesalahan, baik saat penaikan hingga penurunan bendera Merah Putih yang telah kita saksiakan bersama,”ujar Plt Bupati Rusli M Saleh.
Dia juga menyampaikan rasa bangganya kepada panitia malam resepsi HUT RI ke-71 yang mampu menghadirkan seorang saksi sejarah Radio Rimba Raya serta sutradara film dokomunter dapat. “Saya atas nama Pemkab Bener Meriah serta pribadi mengucapkan terimakasih kepada saksi sejarah Radio Rimba Raya dan sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya atas dedikasinya terhadap sejarah Republik Indonesia.
Sementara itu, Ketua Panita HUT RI ke-71 Kabupaten Bener Meriah Drs. Ismarissiska, MM menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada seluruh panita dan masyarakat Kabupaten Bener Meriah yang telah mensukseskan perayaan HUT RI ke-71. “Bahwa, selama 12 tahun Kabupaten Bener Meriah berdiri baru, baru kali ini pasukan pengibar Bendera Merah Putih melaksanakan tugasnya tanpa ada kesalahan,”demikian Sekda Bener Meriah Drs. Ismarissiska, MM. (HUS)

Ikmal Gopi dan Aman Jus Terima Penghargaan dari Pemkab Bener Meriah
















Posted by: lintasgayo.co in Keber Ari GayoPemerintahanSosial BudayaTerbaru  0


Relong-LintasGayo.co : Sutradara film dokumenter sejarah perjuangan Radio Rimba Raya (RRR), Ikmal Gopi dan saksi sejarah bagaimana radio tersebut mengudara mengabarkan Indonesia masih ada saat Agresi Militer Belanda ke-2, Reje Mude Tukiran aman Jus akhirnya menerima penghargaan dari Pemkab Bener Meriah.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Sekda Bener Meriah, Drs. Ismarissiska, MM, pada saat malam resepsi memperingati HUT ke-71 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu 17 Agustus 2016 di Gedung Olahraga dan Seni (GORS) Redelong.
“Terima kasih kepada Ikmal dan Aman Jus yang telah mencurahkan pikiran dan waktunya dalam mengenang sejarah perjuangam kemerdekaan lewat film dokumenter RRR,” kata Sekda dihadapan Plt. Bupati Bener Meriah, Rusli M Saleh dan jajaran Forkompimda Plus daerah setempat.
Amatan LintasGayo.co, penghargaan diberikan setelah pemutaran film dokumenter RRR yang disaksikan penuh hikmat dan pesan edukasi sejarah yang sebenarnya tak terlupakan oleh bangsa Indonesia tercinta ini.
(Darmawan Masri)

Malam ini, Film Radio Rimba Raya akan Diputar di GORS Redelong


Posted by: lintasgayo.co in Keber Ari GayoPemerintahanSosial BudayaTerbaru  0

Redelong-LintasGayo.co : Film dokumenter sejarah perjuangan Radio Rimba Raya (RRR) karya sutradara, Ikmal Gopi akan diputar malam ini Rabu 17 Agustus 2016 di Gedung Olahraga dan Seni (GORS) Redelong.
Pemutaran film bersejarah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia tersebut, akan diputar secara resmi pada malam resepsi HUT ke-71 Republik Indonesia di Kabupaten Bener Meriah, pukul 20.00 Wib.
Demikian disampaikan Ketua Panitia HUT RI Kabupaten Bener Meriah, melalui Ketua Seksi Acara, Irmansyah, S.STP.
“Film dokumenter RRR tersebut akan disaksikan para pejabat pemangku kepentingan di Bener Meriah, kita berharap gesah dari film tersebut tak hanya diketahui oleh masyarakat Gayo dan Aceh saja, akan tetapi bisa dimasukkan menjadi catatan sejarah nasional, dimana saat ini RRR kurang mendapat tempat,” kata Irmansyah.
Pemutaran film RRR karya sutradara putra Gayo yang rela menginisiasi secaa pribadi membuat film sejarah itu menurut Irman, sangat patut diapresiasi, terlebih narasumber yang bercerita bagaimana eksistensi Radio Rimba Raya dalam film itu kebanyakan telah tiada.
“Kita patut bersyukur bang Ikmal sudah mendokumentasikan bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia ini,” tandasnya.
(Darmawan Masri)

Film Radio Rimba Raya Diputar dalam Acara Resmi, Sutradara : ini yang Pertama!



Redelong-LintasGayo.co : Sutradara film dokumenter sejarah perjuangan Radio Rimba Raya (RRR) Ikmal Gopi saat memberikan sinopsis singkat pemutaran film tersebut pada malam resepsi peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan Indonesia mengatakan bahwa film yang sudah digarapnya sejak beberapa tahun silam baru pertama di putar dalam acara resmi.
“Saya sangat bersyukur, setelah 5 tahun, akhirnya Pemkab Bener Meriah mengundang memutar film ini dalam acara resmi dimana pada hari ini merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, tepat pada memperingati 71 tahun kemerdekaan bangsa yang kita cintai ini,” kata Ikmal Gopi dihadapan para pimpinan daerah Bener Meriah, Rabu 17 Agustus 2016.
Disampaikan juga, bahwa film tersebut merupakan hasil riset yang sudah dilakukannya beberapa tahun lalu agar eksistensi RRR tidak dikubur dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Kita harus berusaha agar RRR diakui sejarahnya di tingkat nasional, karena memang radio ini memegang peranan penting dalam sejarah. Diperlukan kebijakan dari pemerintah daerah di Gayo khususnya dan Aceh secara umum, agar sejarah ini tak begitu saja terkubur oleh waktu,” tegas Ikmal Gopi yang didampingi saksi sejarah RRR mengudara RM Tukiran Aman Jus.
Amatan LintasGayo.co, Ikmal dan Aman Jus juga menerima penghargaan dari Pemkab Bener Meriah atas dediskasinya mengkampanyekan sejarah perjuangan Radio Rimba Raya.
(Darmawan Masri)

Ikmal Gopi dan Aman Jus akan Bercerita Radio Rimba Raya di Redelong

Redelong-LintasGayo.co : Saksi sejarah bagaimana Radio Rimba Raya mengumandang mengabarkan bahwa Indonesia masih ada saat Agresi Militer II Belanda tahun 1948, Reje Mude Tukiran aman Jus dan sutradara film dokumenter RRR, Ikmal Gopi diberikan kesempatan memaparkan bagaimana eksistensi radio tersebut dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Demikian disampaikan Ketua Seksi Acara malam resepsi Peringatan HUT ke-71 Kabupaten Bener Meriah, Irmansyah, S.STP, Rabu 17 Agustus 2016.
“Mereka berdua merupakan aset penting bagaimana radio tersebut mengudara, Aman Jus saksi sejarah dan Ikmal Gopi yang telah mendokumentasikan dalam sebuah film tentunya dengan berbagai narasumber,” kata Irmansyah.
Disampaikan juga, nantinya diharapkan ada tindakan nyata dari pemangku kebijakan di Gayo khususnya Bener Meriah untuk lebih memperhatikan sejarah RRR sebagai aset sejarah, yang saat ini eksistensinya kurang mendapat perhatian dalam arsip sejarah nasional.
Sementara Aman Jus mengatakan bahwa dirinya siap memberikan kesaksian sejarah pada malam ini dihadapan ratusan bahkan ribuan orang dari berbagai elemen yang hadir.
“Saya sudah siap menyampaikan kesaksian tentang RRR dan ini merupakan kali pertama dalam sejarah hidup saya diundang dalam acara resmi,” tandas Aman Jus.
(Darmawan Masri)

Film Dokumenter Radio Rimba Raya Disuguhkan Dimalam Resepsi



Home / LINTAS ACEH / Film Dokumenter Radio Rimba Raya Disuguhkan Dimalam Resepsi

Humas Aceh | 18 Agt 2016
REDELONG : Pemerintah Kabupaten Bener Meriah suguhkan tayangan film dokumenter sejarah Radio Rimba Raya di malam resepsi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-71, Rabu (17/8) sekira pukul 20:00 WIB
Pemutaran film dokumenter sejarah Radio Rimba Raya tersebut terselenggara dari buah pikiran Kepala Bagian Humas dan Protokoler Setdakab Bener Meriah Irmansyah, SSTP yang menginginkan generasi muda mengetahui akan pentingnya sejarah Radio Rimba Raya.
Ide cemerlang Irmansyah tersebut mendapat apresiasi dari kepala daerah Kabupaten Bener Meriah, hal tersebut terbukti dengan pemberian penghargaan dari Plt Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh kepada sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya Ikmal Gopi, serta saksi sejarah Radio Rimba Raya Reje Mude Tukiran Aman Jus yang sengaja di hadirkan oleh Kabag Humas dan Protokoler Setdakab Bener Meriah dimalam resepsi tersebut.
“Hut RI tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya menilai penyelenggaraan HUT RI ke-71 ini berjalan lancar dan sukses, saya beri apresiasi kepala panita pelaksana. Saya juga merasa bangga kepala pasukan Paskibraka serta pelatih yang menjalankan tugasnya tanpa sedikitpun ada kesalahan, baik saat penaikan hingga penurunan bendera Merah Putih yang telah kita saksiakan bersama,”ujar Plt Bupati Rusli M Saleh.
Dia juga menyampaikan rasa bangganya kepada panitia malam resepsi HUT RI ke-71 yang mampu menghadirkan seorang saksi sejarah Radio Rimba Raya serta sutradara film dokomunter dapat. “Saya atas nama Pemkab Bener Meriah serta pribadi mengucapkan terimakasih kepada saksi sejarah Radio Rimba Raya dan sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya atas dedikasinya terhadap sejarah Republik Indonesia.
Sementara itu, Ketua Panita HUT RI ke-71 Kabupaten Bener Meriah Drs. Ismarissiska, MM menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada seluruh panita dan masyarakat Kabupaten Bener Meriah yang telah mensukseskan perayaan HUT RI ke-71. “Bahwa, selama 12 tahun Kabupaten Bener Meriah berdiri baru, baru kali ini pasukan pengibar Bendera Merah Putih melaksanakan tugasnya tanpa ada kesalahan,”demikian Sekda Bener Meriah Drs. Ismarissiska, MM.(Humas Setdakab Bener Meriah)