BUS MEWAH Pameran GIIAS ICE - BSD

Saturday, 20 February 2016

Perjalanan Dramatis "Radio Rimba Raya"







Radio Rimba Raya berhasil membentuk opini dunia tentang Indonesia.
13 September 2014 14:20

Tanggal 19 Desember 1948 atau dikenal dengan Agresi Militer Belanda II, penjajah Belanda menyerang Ibu Kota Republik Indonesia di Yogyakarta. 
Jatuhnya Ibu Kota ke tangan Belanda dan penangkapan Soekarno, Muhammad Hatta, Sjahrir, dan sejumlah tokoh kemerdekaan lainnya, membuat Belanda beranggapan telah berhasil menguasai Republik Indonesia sepenuhnya. 
Belanda juga membuat propaganda melalui Radio Hilversum yang berada di Batavia atau Jakarta. Mereka menyebutkan Republik Indonesia telah musnah dan pejuang Indonesia telah dikalahkan. 

Tidak mau kalah, pejuang Indonesia yang masih bertahan di Aceh melakukan perlawanan lewat propaganda dengan membangun radio. Seorang penulis sejarah di Aceh, Iskandar Norman menyebutkan, pejuang Aceh yang tergabung dalam Divisi Gajah 1 memesan peralatan radio dari Malaysia. Selanjutnya, dikenal dengan nama Radio Rimba Raya

“Membawa peralatan radio dari Malaysia tidak mudah, sebab saat itu Selat Malaka dijaga ketat militer Belanda. Itu terjadi pada Juli 1947 atau menjelang Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947,” tutur Iskandar. 

Ia menjelaskan, perangkat radio diselundupkan dari Malaysia melalui perairan Selat Melaka menuju Sungai Yu, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Saat penyelundupan dilakukan, John Lie, pria keturunan Tiongkok-Manado, mengangkutnya dengan dua kapal kecil. Satu kapal berisi peralatan, satu lagi berisi 12 tentara. Kapal yang berisi tentara tersebut bertugas mengelabui patroli Belanda di Selat Malaka.

“Agar peralatan Radio Rimba Raya sampai ke perairan Aceh, John Lie menjadikan kapal berisi 12 tentara sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian Belanda. Kapal dan ke-12 tentara itu pun tewas di tengah laut setelah diserang patroli Belanda, sedangkan kapal yang mengangkut peralatan radio berhasil dibawa sampai Kuala Yu, Kabupaten Aceh Tamiang. Di sana, John Lie disambut Nukum Sanani atas perintah Abu Daoud Beureueh,” ujar Iskandar.

John Lie, Iskandar Norman melanjutkan, banyak berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Ia terakhir berpangkat Laksamana Muda, kemudian berganti nama menjadi Jahya Daniel Darma. 
Setelah peralatan radio tiba di Aceh Tamiang, kemudian peralatan itu dibawa ke Kabupaten Bireun untuk digunakan Divisi X sebagai alat perjuangan. Pemancarnya dipasang di Krueng Simpo yang terletak sekitar 20 kilometer dari Bireun. Studionya berada di rumah Komandan Divisi X, Kolonel Husein Yoesoef. 

Dari Bireun, peralatan radio tersebut dipindahkan ke Kutaraja atau Banda Aceh guna memperoleh posisi yang tepat dalam menyiarkan berita-berita dan pesan-pesan perjuangan. 

Di Banda Aceh, radio pemancar itu dipasang di Desa Cot Gue, Kabupaten Aceh Besar atau delapan kilometer dari Banda Aceh. Studionya ada di dalam gedung peninggalan Belanda di Kawasan Peunayong, dihubungkan dengan kabel. Namun, disiapkan juga studio cadangan untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu Banda Aceh direbut musuh.

Sayangnya, saat di Banda Aceh siaran radio tidak sempat mengudara karena terjadi Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Dalam keadaan yang genting itu, pada 20 Desember 1948 pemancar dipindahkan ke Aceh Tengah dengan pengawalan ketat dan dirahasiakan.

“Dalam situasi yang tidak mendukung itu, Gubernur Militer Tgk Mohd Daud Beureueh memerintahkan alat pemancar dipindahkan ke tempat lain. Disepakati Aceh Tengah sebagai daerah tujuan, daerah yang dianggap lebih aman karena wilayahnya bergunung dan berhutan-hutan,” ucap Fikar W Eda, salah seorang budayawan dari dataran tinggi Gayo yang saat ini tinggal di Jakarta.

Diintai Pesawat 
Fikar menyebutkan, saat peralatan radio itu dibawa ke Aceh Tengah, awalnya daerah yang hendak dituju Burni Bies. Perjalanan menuju Tanah Gayo dilukiskan begitu dramatis. Berkali-kali rombongan terpaksa menyingkir dari jalan raya untuk bersembunyi dari kejaran Belanda yang mengintai dengan pesawat udara.

“Karena risiko perjalanan sangat tinggi, akhirnya rencana yang semula menuju Burni Bies dialihkan ke tempat lain, yakni Rime Raya atau Rimba Raya,” ujar Fikar.

Saat peralatan radio sampai di Rime Raya, Kabupaten Bener Meriah, ternyata pendirian radio juga tidak mudah. Ketika pemancar sudah diletakkan di atas pohon di dalam hutan, muncul masalah baru yaitu tidak ada pembangkit listrik.

Ummi Salamah, istri Kolonel Husein Yoesoef, berusaha mendapatkan listrik ke Lampahan, Kabupaten Bener Meriah dan Bireuen, tapi tidak berhasil. 
Akhirnya, pembangkit listrik diperoleh dari Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Namun, kemudian muncul lagi masalah lain yakni kabel untuk menyambung dari pemancar ke studio tidak cukup sehingga terpaksa mencari lagi.

“Sender radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi hingga sukar dideteksi musuh. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio. Kolonel Husein Yoesoef kemudian mendirikan rumah di areal pertanian tentara pembangunan di Rime Raya,” tutur Fikar.

Dari tengah hutan belantara itulah akhirnya pesan-pesan perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda digaungkan, “Republik Indonesia masih ada karena pemimpin republik masih ada, tentara republik masih ada, pemerintah republik masih ada, wilayah republik masih ada dan di sini adalah Aceh,” siaran tersebut terus diulang hingga dapat didengar ke sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Australia. 
Berita-berita dari Radio Rimba Raya ditangkap Radio ALL India yang menyiarkannya kembali ke penjuru dunia. Pemancar Radio Rimba Raya berkekuatan 1 kilowatt bekerja pada frekuensi 19,25 dan 61 meter. Siarannya menggunakan signal calling suara Radio Republik Indonesia dan Suara Merdeka

Siaran tersebut menggunakan beberapa bahasa, seperti bahasa Indonesia, Inggris, Tiongkok, Urdhu, Arab, Belanda, dan bahasa Aceh. Para penyiarnya adalah W Schutz, Raden Sarsono, Abdullah Arief, M Syah Asyik, Syarifuddin, Ramli Melayu, Sayuddin Taib, Syamsudin Rauf, dan Agus Sam.

“Waktu itu radio ini bisa ditangkap dengan jelas di berbagai kawasan di semenanjung Melayu, Singapura, Saigon, Manila, New Delhi, sampai Australia dan beberapa tempat di Eropa,” kata Fikar.

Opini Dunia 
Dalam waktu enam bulan mengudara, Radio Rimba Raya mampu membentuk opini dunia serta membakar semangat perjuangan di Tanah Air. 

Bahkan, keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 diakui beberapa negara di dunia. Selain berita kemerdekaan Republik Indonesia yang diinformasikan, Radio Rimba Raya juga menyiarkan berita tentang kenduri akbar di Aceh.

Waktu itu Radio Rimba Raya setiap hari melakukan kontak dengan perwakilan RI di New Delhi. Berita-berita itu selain diterima langsung oleh petugas sandi perwakilan RI di New Delhi, juga dikutip All India Radio untuk disampaikan ke alamat yang dituju.

Ketika Konferensi Asia tentang Indonesia digelar pada 20-23 Januari 1949 di New Delhi, jam kerja Radio Rimba Raya diperpanjang karena banyaknya berita yang harus dikirimkan kepada wakil-wakil Indonesia yang menghadiri konferensi tersebut.

Sebagai pemancar gerilya, Radio Rimba Raya juga menyajikan acara pilihan pendengar dengan menghidangkan nyanyian-nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang. 

Bahkan, Radio Rimba Raya merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia

Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

“Namun saat ini, kabarnya peralatan Radio Rimba Raya ditempatkan di museum radio di Yogyakarta. Aneh sekali, riwayat Radio Rimba Raya hampir tak pernah terdengar pada peringatan Hari Radio Nasional,” ucap Fikar kecewa. 

Sumber : Sinar Harapan

No comments:

Post a Comment