![]() |
Agustus 19, 2014 - Aceh
RADIO Rimba Raya yang berjasa dalam menyiarkan berita kemerdekaan RI. dimasa agresi Belanda kedua, 22 Desember 1948 dan peranan Radio Rimba Raya satu-satunya Radio Republik Indonesia sebagai penyiaran berita di tanah air yang beroperasi di tengah hutan rimba raya dataran tinggi Gayo.
Para penyiar Radio Rimba Raya dalam enam bahasa mulai 22 Desember 1948 siaran berita terus mengudara, membuat Belanda marah tak kepalang. Pasalnya, Belanda merasa telah menghancurkan seluruh radio Indonesia untuk memutuskan informasi melempangkan propaganda perang mereka sendiri.
Untuk mendukung agresi II Belanda. Sejak Radio Rimba Raya mengudara dalam rimba raya, Belanda mengirim pesawat-pesawat capungnya ke langit Cot Gue, Aceh Besar, untuk mengintai posisi stasiun Radio Rimba Raya, yang dikelola Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi X Aceh, pimpinan Kolonel Hoessein Joesoef yang saat itu bergerilya di hutan-hutan untuk menghalau masuknya Belanda yang telah menguasai Pulau Jawa dan Sumatera Timur (Sumut) sekarang.
Hingga akhir Desember 1949 atau setahun setelah agresi - II, Belanda tak kunjung menemukan Radio Rimba Raya ’ yang terus mengudara menyiarkan berita kemerdekaan Indonsia ke seluruh dunia. Menurut Abdul Karim Yakobi, Komandan Resimen Tentara Pelajar Islam yang berada dibawah Divisi Gajah I/Aceh, berita yang disiarkan Radio Rimba Raya itu tak hanya informasi untuk menangkal propaganda Belanda di Aceh, tetapi juga berita-berita manca negara.
”Jam siarannya sejak pukul 16.00 WSU (Waktu Sumatera) sampai 24.00 dini hari dengan menggunakan teknologi pemancar telegrap. Sementara berita-berita manca negara dipasok oleh Letnan Syarifuddin di Jakarta dalam bentuk data stenograf. Berita-berita ini sendiri diambil dari kantor berita Reuters (Inggris), AP dan UP (Amerika), AFP (Perancis), serta Aneta (Belanda).
Informasi-informasi inilah yang dipancar luaskan ke khalayak pendengar, selain merelai siaran Radio Republik Indonesia (RRI) di Yogyakarta sebelum ditutup Belanda. Radio ini semula diberi nama PD X (Perhubungan Divisi X) yang mengudara pada frekuensi 39.00 melalui format telegrafis (tulisan) dan telefonis (suara).
Sasarannya tak hanya masyarakat pendengar, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung dengan pemerintah pusat dan Markas Besar TRI di Yogyakarta,serta Komandemen Sumatera di Bukit Tinggi. Belakangan namanya dirubah menjadi Radio Republik Indonesia Kutaradja dan terakhir Radio Rimba Raya namanya.
Nama berbau gerilya ini dipilih karena disiarkan dari lokasi yang jauh berada di tengah rimba didataran tinggi Gayo Aceh Tengah, tepatnya di Barnibius, nama sebuah perkampungan.. Sementara Rimba Raya sendiri adalah nama kawasan hutan pada masa itu tak berpenghuni.
Lokasi ini dipilih, karena pegunungan Cot Gue Kutaradja sering menjadi sasaran gempuran serangan udara Belanda setelah beberapa kali mata-mata Belanda. Karena banyaknya mata-mata, pemindahan studio dari Takengon ke Bireuen juga disebabkan jatuhnya ibukota RI kedua Yogyakarta 1948.
Presiden Soekarno terpaksa hijrah ke BIreuen yang relative lebih aman mendarat dengan mulus dilapangan terbang Cot Gapu dengan pesawat Dakota milik warga Negara Amerika dipiloti Bobby Freeberg.
Selama seminggu Presiden Soekarno mengendalikan Republik di Bireuen dan selama itu pula Bireuen menjadi ibukota RI ketiga dalam keadaan darurat. Dalam Leising (rapat umum) digelar malam hari dilapangan terbang Cot Gapu Juni 1948 Presiden Soekarno dihadapan ribuan rakyat Aceh yang berdatangan dari pelosok desa negeri Jeumpa dalam pidaonya yang berapi-api membangkitkan semangat rakyat Aceh menegaskan : Aceh yang masih utuh belum tersentuh agresi Belanda dijadikan sebagai “Daerah Modal” dalam mempertahankan Republik Indonesia. **** ( WSP/H.AR. Djuli )
No comments:
Post a Comment