BUS MEWAH Pameran GIIAS ICE - BSD

Saturday, 20 February 2016

Mengenang Alunan Kemerdekaan Dari Monumen Radio Rimba Raya




By  -Sep 25, 2015
Mengenang Alunan Kemerdekaan Dari Monumen Radio Rimba Raya – Radio sangat berperan sebagai penghantar informasi di masa sebelum kemerdekaan dikumandangkan. Oleh karena radio, informasi terbaru bisa tersebar. Baik ketika kemerdekaan maupun untuk menumbuhkan rasa nasionalisme para pemuda tanah air. Salah satu radio yang paling berjasa adalah Radio Rimba Raya yang ada di Provinsi Aceh.

SEJARAH

Radio Rimba Raya, menurut sejarahnya dibeli pada Jhon Lee, seorang blasteran China-Manado, yang menjadi perantara pembelian perangkat radio itu. Dibeli di Malaysia dan dibawa ke Bireuen kemudian ke Banda Aceh. Di sana sempat dirangkai komponennya pada akhir 1948, namun belum sempat mengudara. Setelah itu barulah dibawa ke Rimba Raya. Setelah melewati perjuangan dalam mendirikannya, akhirnya radio tersebut mengudara dan memberitahukan kepada seantero negeri bahwa Indonesia masih eksis di dunia luar, serta pesan pada pejuang agar terus berjuang mempertahankan kemerdekaan.

SIARAN RIMBA RAYA

Berbagai siaran yang dipancarkan dari radio tersebut, seperti berita kemerdekaan, pesan-pesan untuk mempertahankan kemerdekaan, sebab saat itu Yogyakarta masih menjadi ibukota dan dikuasai oleh Belanda. Radio yang memiliki panggilan sinyal, “Suara Radio Republik Indonesia”, “Suara Indonesia Merdeka” ,”Radio Rimba Raya”, “Radio Divisi X” dan “Radio Republik Indonesia” ini sangat berperan terhadap kelangsungan pemerintahan Indonesia. Sebab, siaran itu bisa ditangkap oleh beberapa negara yang ada di dunia, dan banyak pula yang dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia.

MONUMEN RADIO RIMBA RAYA

Monumen radio Rimba Raya diresmikan oleh Menteri Koperasi atau Kepala Bulog, Bustanil Arifin pada tanggal 27 Oktober 1987. Monumen tersebut dibangun untuk mengenal dan mengenal tekad bangsa ini yang gigih mempertahankan negeri dari kaum penjajah. Sebagai salah satu peninggalan sejarah, monumen ini juga dijadikan tempat wisata. Tak jarang orang yang berkunjung dan menikmati keantikan bangunan itu juga sekedar mengingat-ingat kembali apa yang terjadi selama masa kemerdekaan beberapa tahun silam. Tempat ini sangat cocok bagi Anda pemburu sejarah.

LOKASI DAN TRANSPORTASI

Monumen tersebut berlokasi di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah. Untuk menuju ke lokasi Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika Anda menggunakan kendaraan umum dari Bener Meriah, ongkosnya sekitar Rp5.000-Rp20.000 baik untuk becak motor, angkutan umum maupun ojek.

PENUTUP

Sebagai bangsa yang baru, janganlah melupakan sesuatu yang ada di masa lalu. Saat ini jalanan menuju ke monumen tersebut seperti sudah tidak terurus lagi. Bagi Anda yang berminat untuk datang ke sana, marilah, gugah semangat warga sekitar untuk memperbaiki apa yang telah rusak, yang dulunya berperan penting sebagai pemersatu sekaligus memperbaiki kerusakan yang diakibatkan penjajah. Dengan ikhlas, bantulah untuk memperbaikinya seperti semula. Selamat berlibur dan salam ransel.

Radio Rimba Raya Layak Dapat Gelar Pahlawan







Syukri Muhammad Syukri

10 November 2011 01:08:06

Seorang anak muda kelahiran Takengon, Ikmal “Bruce” Gopi, benar-benar “menghentak” dan “membuka mata” semua orang. Lewat karyanya, sebuah film dokumenter yang berjudul “Radio Rimba Raya” membuat kita seperti bangun dari tidur. Mengapa? Ternyata salah satu simpul yang menyebabkan tetap tegaknya republik ini adalah sebuah perangkat radio tua. Simpul itu bermula saat Tgk.H.M. Daud Beure-eh, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo pada tanggal 20 Desember 1948 memerintahkan pengoperasian Radio Perjuangan “Rimba Raya” dari hutan belantara di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah.

Bagaimana kisahnya, mari kita simak tulisan Tgk. AK Jakobi dalam bukunya yang berjudul “ACEH DAERAH MODAL, LONG MARCH KE MEDAN AREA (1992).” Menurutnya, “duel” udara antara Radio Perjuangan Rimba Raya yang kadang-kadang menamakan dirinya “Suara Indonesia Merdeka” semula dipancarkan dari Krueng Simpo dekat Bireuen. Siaran radio ini menggunakan bahasa Inggris, Urdu, Arab, Belanda, Cina dan bahasa Indonesia. “Duel” udara dengan Radio Belanda di Medan, Radio Batavia, bahkan dengan Radio Hilversium di Holland berlangsung sangat seru. “Debat” udara ini juga dipantau oleh Dr. Sudarsono, Kepala Perwakilan RI di India melalui Radio Penang di Malaya. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada L.N. Palar, Kepala Perwakilan RI di PBB.

Hal inilah yang menyebabkan pihak Belanda panik, mereka terus memburu dan ingin menghancurkan pemancar Radio Perjuangan Rimba Raya. Perburuan yang dilakukan Belanda menyebabkan lokasi pemancar Radio Perjuangan Rimba Raya selalu berpindah-pindah, sehingga Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo memerintahkan agar pemancar itu dipindahkan ke pegunungan Cot Gue di Aceh Besar. Dilokasi ini pun, ternyata pihak Belanda dapat mendeteksi keberadaan pemancar ini. Pada akhirnya, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo memerintahkan untuk memindahkan pemancar Radio Perjuangan Rimba Raya tersebut ke kawasan hutan belantara di Dataran Tinggi Gayo yang diyakini akan sulit ditembus oleh pesawat-pesawat tempur Belanda.

Pada waktu itu, tulis Tgk. AK Jakobi, seluruh ibukota propinsi di Jawa dan Sumatera sudah diduduki oleh Belanda. Suara Radio Republik Indonesia (RRI) pun sudah tidak terdengar lagi, hanya Radio Perjuangan Rimba Raya yang dalam masa transisi masih mampu berfungsi sebagai media perjuangan. Kefakuman informasi saat itu, segera dapat diisi sehingga rakyat Indonesia tidak terombang-ambing oleh isu-isu yang menafikan perjuangan republik. Seperti ditulis oleh TB Simatupang dalam bukunya yang berjudul “Laporan dari Banaran (1959)” bahwa selain pemancar yang ada di Wonosari, Jawa, masih terdapat pemancar radio yang kuat di Sumatera, yaitu di Kutaraja.

Mudah-mudahan, dengan tambahan catatan ini, dapat memperkaya diskusi kita dalam memperdalam nilai-nilai sejarah yang tertuang dalam film dokumenter Radio Rimba Raya karya sutradara Ikmal Gopi. Pada akhirnya, sejarah simpul republik yang selama ini masih tersamar, sedikit demi sedikit akan tersibak. Mengapa tidak, kemudian kisah-kisah heroik ini dapat ditulis kembali dalam buku sejarah perjalanan bangsa ini. Dan, kepada Radio Rimba Raya itu sendiri layak diberi gelar pahlawan. Sekian!

Indonesia Masih Ada dari Gayo Rimba Raya








12 Agustus 2015 11:30:25 Dibaca : 101

                             SEJARAH Indonesia mencatat, 1 Maret 1949 terjadi peristiwa hebat perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Serbuan besar dilakukan di pagi buta oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan mengikutsertakan beberapa pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman terhadap pasukan Belanda yang menguasai Yogyakarta.
Selama 6 jam, TNI menguasai kota tersebut dan berhasil mematahkan propaganda Belanda di mata dunia yang sebelumnya menyatakan Indonesia lumpuh ditangan bangsa kolonial tersebut. Detik demi detik dimanfaatkan oleh komponen bangsa Indoensia saat itu, tak terkecuali TB Simatupang di Gunung Kidul langsung membuat surat yang ditujukan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada dan punya kekuatan besar.
Surat TB Simatupang diteruskan oleh Budiarjo melalui Radio TNI Angkatan Udara (AU) di Gunung Kidul dan diterima dengan baik oleh Sjafruddin Prawiranegara bersama TM Hasan yang saat itu berada di Bidar Alam Sumatera Barat. Pesan tersebut segera disampaikan ke Kutaraja Banda Aceh dan diteruskan ke stasiun Radio di tengah belantara dataran tinggi Gayo, “Rimba Raya”.
Mendapat perintah untuk menyiarkan berita tersebut, operator Radio Rimba Raya (RRR) segera mengudarakannya ke penjuru dunia hingga didengar oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan bunyi pesan“Republik Indonesia masih ada, Pemerintah Republik masih ada, Wilayah Republik masih ada, dan disini adalah Aceh”.
Melalui RRR, Panglima Besar juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambil guna meng-counter (menangkis-red) propaganda Belanda.
Dan sejak hari itulah serangkaian peristiwa besar terjadi, PBB turun tangan dalam upaya mengembalikan kedaulatan Indonesia melalui sejumlah perundingan dari perundingan Roem–Royen hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) yang melahirkan sejumlah butir perjanjian yang mengembalikan kedaulatan Republik Indonesia.
Ikmal gagas film dokumenter RRR
Puluhan tahun, peristiwa heroic peran Radio Rimba Raya hanya terdengar samar oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, termasuk warga tanoh Gayo hingga pertengahan tahun 2006 muncul keinginan seorang pria blasteran Gayo dan Pidie kelahiran Takengon, Ikmal Gopi untuk menggali sejarah yang hampir menjadi dongeng bagi generasi sekarang.

Tahun demi tahun dilalui, receh demi receh Rupiah mengalir, satu persatu data diperoleh Ikmal Gopi dan di bulan Oktober 2010 sebuah film documenter pun kelar.
Hari yang bersejarah bagi Ikmal Gopi, putra bujang kelahiran Takengon 38 tahun silam. Rasa lelah selama 4 tahun mengais-ngais sampah-sampah masa lalu ibarat mencari sebatang jarum disegundukan pasir telah dilalui Ikmal Gopi sirna sudah pada 28 Nopember 2010, saat mendengar kabar dari Batam, tempat penyeleksian film karyanya Film Dokumenter Radio Rimba Raya lolos sebagai salah satu dari lima nominator peraih penghargaan pada Festival Film Indonesia (FFI) 2010 menyisihkan sekitar 60 film sekategori yang ikut terdaftar sebagai peserta.
Selanjutnya, 6 Desember 2010, di Central Park Building Jakarta, merupakan hari paling bersejarah bagi Ikmal Gopi. “Saat itu adalah saat terindah dalam hidup saya,” kata Ikmal mengawali serangkaian percakapannya dengan LintasGAYO beberapa waktu lalu di salah satu warung kopi di depan Pendopo Bupati Aceh Tengah sehari setelah Ikmal berada kembali di tanah kelahirannya untuk bersilaturrahmi dengan keluarganya di kawasan Simpang Lima Takengon.
“Film RRR ditayangkan di screen yang begitu megah, saya seakan tak percaya itu adalah film yang saya buat,” kenang Ikmal.
Ikmal mengaku tidak  mendapat apapun dari pihak penyelenggara FFI baik berupa bingkisan hadiah, uang, atau penghargaan lainnya, dirinya sudah sangat senang film sejarah Indonesia berlatar Gayo sudah diakui secara Nasional, setidaknya bagi insan film.
Ditanya apakah mendapat apresiasi dari pihak lain, Ikmal tersenyum dan menjawab tentu banyak rekan-rekan yang beri apresiasi dan nyatakan turut bangga atas prestasi yang diraihnya.
“Jangan ditanya pemerintah terutama Pemerintahan di Aceh khususnya Gayo. Mereka sepertinya tidak dengar kabar jika sekelumit cerita sejarah Gayo sudah diakui secara Nasional,” ujar Ikmal.
Bener Meriah misalnya, dengan bangga membubuhkan tugu Radio Rimba Raya sebagai bagian utama logo kabupatennya, tapi kenyataannya hingga saat ini menganggapnya mungkin hanya sebatas hiasan saja.
“Harusnya kita terus berupaya agar catatan sejarah perjuangan Indonesia yang dipelajari dari tingkat Sekolah Dasar hingga pendidikan tinggi harus memasukkan sejarah peranan Radio Rimba Raya kedalamnya,” tegas Ikmal.
Menurut Ikmal, dari penelusuran sejauh ini data-data yang dimasukkan kedalam materi film sudah sangat refresentatif walau mungkin masih ada data-data pendukung lainnya yang belum diperoleh.
Kesana kemari cari data
Berbeda dengan film lain, untuk film documenter harus dicari data-data terkait baik berupa catatan-catatan, audio visual, wawancarai saksi sejarah dan tokoh serta foto-foto pendukung. “Tidak gampang mengumpulkan data pembuatan film ini, harus ditemukan data-data yang tentu tidak menumpuk disatu tempat,” kata Ikmal.
Pengakuan Ikmal, untuk menelusuri jejak Radio Rimba Raya dia sudah ke Padang, Koto Tinggi Sumatera Barat, ke Gunung Kidul dan Museum Angkatan Darat Yogyakarta, Tulung Agung Jawa Timur dan sejumlah tempat lainnya.
“Di Gunung Kidul, tepatnya di Tugu PC2, tidak ada disebut-sebut Radio Rimba Raya tapi ditulis Takingen dalam sebuah dokumen yang menceritakan penyiaran relay kondisi kedaulatan RI saat itu,” ungkap Ikmal.
Di Museum Angkatan Darat (AD) Yogyakarta, Ikmal merasa sangat prihatin melihat bangkai yang diduga sebagai piranti Radio Rimba Raya layaknya onggok besi tua dan mirip sampah tak berguna berada di museum tersebut.
“Jangan harap orang lain mengangkat diri kita kalau bukan kita sendiri yang melakukannya. Kepingan sejarah Gayo terbengkalai disana,” kata Ikmal sedih.
Untuk biaya dari awal hingga akhir finalnya film tersebut, Ikmal agak keberatan mengungkapnya. Dan setelah diyakinkan akhirnya dibeberkan dengan nada agak miris.
“Dana terbesar saya peroleh dari Parni Hadi sebesar Rp.15 juta, dari Fauzan Azima Rp. 4 juta, Pemkab Aceh Tengah Rp.5 juta, Fauzan Sastra Rp.2 juta, Mursyid Rp.4 juta, Partai Demokrat melalui Nova Iriansyah Rp.1.5 juta, Jauhari Samalanga Rp.3 juta, dan banyak lagi yang lain-lain berupa uang recehan Rp.50 ribu,” rinci Ikmal.
Saat ditanya uang pribadi atau keluarga, Ikmal kembali merasa keberatan. Dan setelah didesak disebutkan angka Rp.17 juta Rupiah.
“saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” ucap Ikmal sambil menyarankan jika tidak dengan persiapan dana yang jelas dan memadai serta tidak punya tekat kuat tidak usah ikut jejaknya membuat film documenter.
PM Sjafruddin Prawiranegara tidak pernah ke Gayo?
Sisi lain dari penelurusannya, Ikmal bertemu dengan Chalid Sjafruddin Prawiranegara. Menurut putra tokoh perjuangan asal Sumatera Barat ini, ayahnya tidak pernah ke Takengon saat terjadi Konferensi Meja  Bundar (KMB), 1 April 1949.
Dijelaskan Ikmal, yang ke Takengon saat itu adalah Kolonel Hidayat yang merupakan Gubernur Meliter Sumatera saat itu yang dijadikan sebagai bayangan Sjafruddin untuk mengelabui kejaran Belanda.
“Dari fakta yang saya peroleh, Kolonel tersebut menuju Takengon melalui Brastagi, Kutacane, Belang Kejeren dan Burni Bius Aceh Tengah yang terjadi setelah Agresi Meliter kedua tahun 1948,” papar Ikmal.
Fakta harus disosialisasikan
Dari hasil riset Ikmal, Radio Rimba Raya adalah fakta yang tak terbantahkan lagi dan sekarang sudah ada bukti yang refresentatif, walau mungkin belum semuanya. Perlu sosialisasi kepada generasi sekarang, khususnya Aceh dan Gayo.
“Kita harus berupaya agar buku-buku sejarah perjuangan rakyat Indonesia yang dipelajari di sekolah-sekolah memasukkan nama Radio Rimba Raya. Dan itu harus kita mulai dari kita di tanoh Gayo. Ceritakan sejarah Radio Rimba Raya secara khusus kepada mereka,” pinta Ikmal.
Mengakhiri paparannya, Ikmal menegaskan bahwa tanggal 1 Maret adalah hari yang sangat penting bagi dataran tinggi Gayo. “Kita harus peringati karena terkait dengan sejarah Radio Rimba Raya yang terlibat langsung di saat genting bangsa Indonesia mempertahankan harga diri dimata dunia,” pungkas Ikmal.[]

Ada Yang Pemutarbalikkan Fakta Diorama Monas



NASIONAL


 10 Juni, 2015 - 20:50
JAKARTA (PRLM).-Diorama di Monumen Nasional (Monas) ternyata ada yang memutarbalikkan fakta. Ada gambaran Hari Pancasila pada 1 Juni, diubah menjadi 1 Oktober. Hal ini menunjukkan adanya penonjolan peran Orde Baru dan mengecilkan peran Bung Karno.
“Saya melihat ada diorama yang dibuat dari era Bung Karno, karena tidak selesai, oleh Orde Baru dilanjutkan. Namun, Hari Pancasila dari 1 Juni, kemudian diganti 1 Oktober,” kata sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, dalam acara Dialog Kenegaraan, bersama Ghazali Abbas Adan ( Anggota DPD RI Asal Provensi Aceh), dan Peter Kasenda (Penulis Buku-buku S Sukarno, di DPD RI, Rabu (10/6/2015).
Menurutnya, perubahan itu menunjukkan keinginan penguasa Orde Baru yang ingin mengecilkan peran Bung Karno terkait Pancasila. Orde Baru memang ingin melambungkan perannya dalam mengamalkan Pancasila.
“Padahal faktanya, Bung Karno adalah tokoh terkemuka menggali Pancasila, kalau Orde Baru mengangkat 1 Oktober dikaitkan dengan peristiwa 1965, yang kebudian disebut Kesaktian Pancasila,” ungkapnya.
Asvi menilai, belakangan memang ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, misalnya saja soal kesalahan Presiden Jokowi menyebut tempat lahir Bung Karno di Blitar, padahal dalam berbagai dokumen, lahirnya di Surabaya.
Oleh karena itu, pemerintah sudah seharusnya membuat Komisi Sejarah untuk meluruskan secara resmi berbagai kesalahan penulisan sejarah di negeri ini.
Selain itu, data-data sejarah perlu diperbaiki. Misalnya saja, pemerintah membuat dokumen resmi, seperti tempat lahir Bung Karno, di Surabaya, harus ditelusuri letaknya, di Jl Pandean 40 atau Jl Lawang Seketeng, rumah Pegangsaan TImur 56 yang sudah dirobohkan perlu dibangun lagi, juga Wisma Yaso tempat terakhir hidup Bung Karno direnovasi.
Anggota Komite IV DPD RI, Senator Asal Provinsi Aceh Ghazali Abbas Adan mengingatkan agar setiap rezim berkuasa tidak mengkultuskan seorang tokoh secara berlebihan, termasuk kepada tokoh Soekarno. Pengkultusan seakan tokoh itulah yang berjasa pada negara sementara tokoh lainnya yang berjasa terlupakan.
“Boleh saja seperti Bung Karno diingat kembali akan jasanya pada negara ini, tetapi tidak berlebihan. Seakan-akan perjuangan rakyat Aceh dengan membeli pesawat terbang hasil kumpulan rakyat Aceh untuk negara ini terlupakan," kata Ghazali, di DPD RI, Rabu (10/6/2015).
Ia membandingkan, di Aceh itu ada radio Rimba Raya yang dalam sejarahnya menyiarkan bahwa negara RI itu masih ada, tapi seakan tenggelam begitu saja sejarahnya. Peran radio itu tidak pernah dibicarakan dalam perannya untuk negara.
Menurut Ghazali, sejarah itu diperlukan untuk generasi muda dengan didata secara benar, akurat. “Hanya saja setiap ganti rezim selalu ada upaya untuk mengikis perlahan rezim sebelumnya jika tidak sefaham,” ujarnya.
Sedangkan ahli peneliti utama Pusat Penelitian Politik LIPI Asvi Warman Adam menambahkan sangat diperlukan rekonstruksi sejarah nasional karena ada beberapa peninggalan yang hilang.
“Semestinya rumah di Proklamasi saat Bung Karno membacakan awal Naskah Proklamasi dibangun kembalil, karena ini sebagai bukti sejarah. Begitu juga rumah kelahiran Bung Karno yang di Surabaya, Jawa Timur. Hanya saja soal rumah kelahiran Proklamator ini juga perlu penelitian lagi mana yang tepat tempatnya,” ucap Asvi.
Ada lagi yang masih belum terjawab soal Gerakan 30 September PKI, yang sampai sekarang masih muncul berbagai versi tanpa ada kepastian sebagai bukti sejarah, jelasnya. (Sjafri Ali/A-89)***

Radio Rimba Raya ; Ingatkah Indonesia ?





Oleh Syukurdi, MA*
Posted by: lintasgayo.co in OpiniSara SagiTerbaru 
Syukurdi-MASEMAKIN panjang umur Republik Indonesia, tanpa disadari membawa bangsa ini menuju kedewasaan dalam bernegara bagi rakyatnya, sehingga banyak cobaan yang akan dilalui, seperti sekarang ini, sejauh mana putra-putra bangsa diuji nilai nasionalismenya, sehingga pada umur ke-70 negara ini, makin banyak putra-putra bangsa yang sudah lupa dengan lagu-lagu kebangsaan termasuk juga pada nilai-nilai  sejarah bangsa Indonesia itu sendiri.
Meyinggung eksistensi peranan Radio Rimba Raya, sejauh mana rakyat Indonesia mengetahui siapa Radio Rimba Raya itu.? Dimana letak Radio Rimba Raya itu.?  Apa peranan Radio Rimba Raya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.? Ini sebuah pertanyaan  terutama bagi putra-putra bangsa Indonesia diera melenia tepatnya 70 tahun usia Indonesia merdeka.
Dari namanya, pasti masyarakat berfikir bagaimana cerita Radio Rimba Raya itu dan kenapa radio tersebut dapat berada ditengah-tengah hutan yang rimba seakan akan menyimpan suatu misteri bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa itu.
Melihat sejarah nasional Indonesia pada tahun 1948, Indonesia mengalami kegoncangan dikarenakan agresi Belanda kedua paska proklamasi kemerdekaan Indonseia, yang mana segala akses informasi dan komunikasi pada masa itu diblokade oleh pihak Belanda sehingga mengganggu hubungan Indonesia dengan negara laninya. Selain pusat media informasi dan komunikasi yang diblokade Belanda pada masa itu, banyak juga penderitaan rakyat Indonesia semakin bertambah seiring  agresi Belanda  terhadap rakyat Indonseia, dan kejadian ini hampir seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia lumpuh total pada masa itu.
Banyaknya propaganda yang dilakukan Belanda dalam melumpuhkan negara Indonesia khususnya menggunakan konsep agenda setting, yaitu dengan cara mematikan akses informasi dan komunikasi yang ada di Indonesia sehingga membuat khawatir negara-negara tetangga yang pro terhadap kemerdekaan Indonesia. Konsep agenda setting  niat buruk Belanda tersebut, dengan cara melumpuhkan akses informasi dan komunikasi melalui lembaga penyiaran Indonesia, agar suara Indonesia tidak berkumandang di udara, sehingga dunia melihat dan menilai Indonesia telah tiada. Hal ini dimaksudkan agar dunia mengakui kekalahan Indonesia sehingga Indonesia tidak masuk pada peta dunia.
Pada  tanggal 19 Desember 1948, pada masa itu indonesia sangat kritis dan menyedihkan, meskipun ibu kota negara telah dipindahkan ke kota Yogyakarta dengan tujuan menjaga wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan tetapi Belanda dengan agresinya dapat dapat melumpuhkanya, sehingga membuat negara Indonesia dalam status sangat kritis pada masa itu, akan tetapi ada satu wilayah yang tidak dapat ditaklukkan oleh Belanda, yang mana rakyat terkenal sangat heroik dalam mengusir penjajahan Belanda, yaitu provinsi Daerah Istimewa Aceh.
ilustrasi RRR (sumber internet)
ilustrasi RRR (sumber internet)
Semua wilayah Indonesia mengalami masa yang sangat kritis, akan tetapi Daerah Istimewa Aceh tetap memiliki eksistensi dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga marwah bangsa Indonesia tetap terjaga, dikarenakan Daerah Istimewa Aceh masih mampu bertahan terhadap agresi blokade Belanda, bahkan Aceh masih mampu untuk mengirim para mujahidin-mujahidin (Pejuang-pejuang fisabilillah) menuju Medan Area sebagai antisipasi masuknya agresi Belanda ke Aceh. Para mujahidin atau para pejuang di jalan Allah yang dikirim untuk  melawan agresi Belanda, berasal dari Tanah Gayo Daerah Istimewa Aceh, dengan modal keberanian dan niat tulus melawan penjajahan Belanda. Merasa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan didasari dengan iman maka mujahidin yang berasal dari Tanah Gayo, dikirim keberbagai wilayah khususnya wilayah yang berbatasan langsung dengan Sumatra Utara termasuk wilayah Medan Area pada masa itu. Tujuannya untuk menghalau Belanda sekaligus membantu pejuang-pejuang rakyat Sumatra Timur pada masa itu.
Disamping peran serta dan diiringi rasa gigihnya pejuang mujahidin-mujahidin Tanah Gayo yang berasal dari Daerah Istimewa Aceh, maka seiring dengan dinamika gejolak yang dihadapi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak hanya itu saja, peran mujahidin Tanah Gayo ikut berperan membantu menyuarakan suara Indonesia merdeka melalui udara.
Tepatnya di kampung Ronga-Ronga, yaitu sebuah kampung kecil tepatnya sekarang ini berada pada pemerintahan Kabupaten Bener Meriah, yang dulunya sebuah kampung yang masih hijau diselimuti hutan rimba dan dikelilingi gunung-gunung dataran tinggi Tanah Gayo. menurut sejarah yang di kutip dari sebuah film domumenter radio Rime Raya, awal mulanya, sebelum sampai ke ronga-ronga, radio tersebut sudah diuapayauntuk beroprasi pada setiap tempat, sesuai dimana posisi radio itu berada, akan tetapi Belanda selalu dapat membaca sinyal dari radio tersebut, sehingga menjadi kendala bagi oprator pada saat mengudara, maka dari itu, radio tersebut yang sekarang menjadi Radio Rimba Raya selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, guna untuk mengelabui sekaligus untuk menghilangkan jejak dari kejaran Belanda.
Pada masa itu tepatnya pada tahun 1948, Belanda tidak berani menginjakan kakinya di bumi provinsi Daerah Istimewa Aceh, karena itu Belanda mencari sinyal radio Rimba Raya dengan menggunakan pesawat udara, dengan harapan dapat membumi hanguskan prangkat radio Rimba Raya sehingga tidak dapat mengudara dan bersuara. Hal ini sebabkan, apabila radio Rimba Raya dapat mengudara dan bersuara, tentunya menjadi kekhawatiran Belanda terhadap dunia dan Indonesia khususnya, sehingga Belanda dengan agresipnya terus mencari keberadaan radio Rimba Raya tersebut.
Sebelum sampai di hutan rimba Ronga-Ronga, sesekali radio Rimba Raya beroprasi, akan tetapi Belanda masih dapat mendeteksi keberadaan sinyal radio Rimba Raya, oleh karena itu, atas kerja sama dan solidaritas rakyat dataran Tinggi Gayo, akhirnya prangkat radio Rimba Raya dibawa ke tempat dataran yang lebih tinggi dengan cara bergotong royong bersama masyarakat setempat, guna menghindari dari kejaran Belanda.
Sesekali masyarakat bersembunyi ditengah-tengah hutan rimba yang balantara beserta dengan segala prangkat radio yang digotong bersama, apa bila masyarakat mendengar suara dan melihat  pesawat Belanda melintasi areal hutan rimba raya tersebut. Menurut dari cerita yang ada, terkadang kala belanda tidak segan-segan mengebom tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat beroprasinya radio kemerdekaan tersebut, akan tetapi gerakan yang dilakukan Belanda tidak membuahkan hasil meskipun melalui udara sekalipun, hal ini yang membuat radio Rimba Raya dapat beroprasi di dataran tinggi Gayo tepat di kampung kecil Ronga-Ronga yang sekarang menjadi Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah.
Masuknya Radio Rimba Raya ke Tanah Gayo
Daerah Istimewa Aceh adalah gelar yang diberikan oleh pemerintah pusat , karena dianggap sebagai daerah modal yang besar dalam mempertahankan Republik Indonesia dari genggaman penjajah, terlebih lagi suatu daerah yang tidak dapat diblokade Belanda pada masa lalu. (Ikmal Gopi/Film dokumenter/2011).
RRR filmDalam catatan sejarah, pemancar radio Rimba Raya didatangkan dari luar negeri sehingga dapat  mengudara, hal ini hasil dari sidang pertahanan daerah oleh Gubernur Meliter Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Sebelumnya, radio rimba Raya diupayakan  mengudara pada wilayah-wilayah yang menjadi perlintasan kota pada saat membawa perangkat pemancar radio kemerdekaan, seperti lintasan di kota juang Bireuen, akan tetapi bila saat mengudara, masih dirasakan belum aman, maka dari itu segala perangkat Radio Rimba Raya di gotong secara bersama ke tempat yang dianggap sangat aman yakni menuju ke arah Takengon, dalam sumber lain mengatakan prangkat pemancar Radio Rimba Raya akan dibawa dan mengudara pada wilayah Bur Bius, setelah sampai dilokasi dan hendak membangun tiang pemancar terpaksa dibatalkan karena Belanda telah mengetahui lokasi pemancar Radio Rimba Raya tersebut dan kembali menuju Takengon, setelah sampai di Takengon, rombongan selanjutnya melanjutkan perjalanan kesuatu tempat melalui jalur Bireuen-Takengon tepatnya di kampung Ronga-Ronga (Reronga). Pada  perlintasan jalur Bireuen-Takengon, dan dirasakan aman, maka perangkat Radio Rimba Raya di gotong bersama untuk masuk ke dalam kampung Ronga-Ronga yang sekarang ini, hal ini dikarena agar lebih aman dari sebelumnya.
Eksistensi Radio Rimba Raya dinilai sangat penting bagi Negara Kasatuan Republik Indonesia, hal ini karenakan, Negara Kasatuan Republik Indonesia pada masa itu sangat kritis. Pada tanggal 19 Desember ibu kota negara Republik Indonesia Yogyakarta dikuasai Belanda. Radio republik Indonesia yang mengumandangkan suara Indonesia merdeka keseluruh dunia tiada lagi mengudara. Radio BelandaHilversum, secara  lantang menyiarkan bahwa Republik Indonesia sudah hancur. Sebagian dunia mempercayai berita itu. Pada saat demikian gentingnya suasana, tanggal 20 Desember 1948 malam, RRR (Radio Rimba Raya) mengudara menembus angkasa memberitakan bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila masih ada, dan Revolusi 1945 masih tetap menyala.
Tanggal 19 Desember 1948, Gubernur Meliter Aceh, Langkat dan Tanah Karo, dalam sidang Dewan Pertahanan Daerah,   antara lain memutuskan  tangal 20 Desember 1948 pemancar radio yang kemudian dinamakan Radio Rimba Raya harus telah mengudara.
Tanah Aceh daerah modal Republik Indonesia, dalam mengahdapi segala peristiwa yang terjadi, mempersiapkan diri mendatangkan sebuah  pemancar yang kuat dari luar negeri. Di Ronga- Ronga inilah, akhirnya setelah mengalami proses  peralanan panjang Radio Rimba Raya bermukim, dan tanggal 20 Desember 1948 secara berkala mulai mengudara.  ( RRR, /3/2015).
Siaran Radio Rimba Raya, strategi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia
Kegiatan siaran Radio Rimba Raya saat beroperasi, pada setiap hari rata-rata dimulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 03.00 dini hari. Saat beroprasi jadwal penyiaran dibagi menjadi lima waktu, yakni, mulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00, mengadakan hubungan telegrafi dengan stasiun-stasiun pemancar greliya di dalam dan di luar kota-kota yang diduduki Belanda. Pukul 19.00 sampai dengan 21.00 melakukan siaran dalam negeri menggunakan signal colling “ Suara Radio Republik Indonesia”. Selanjutya pada pukul 21.00 sampai dengan pukul 23.00, mengadakan siaran khusus keluar negeri dengan signal colling “ Radio Republik Indonesia”. Kemudian pada pukul 23.00 sampai dengan pukul 24.00, mengadakan program siaran khusus kegaris depan menggunakan signal colling ” Suara Indonesia Merdeka”.  Dan pada pukul 24.00 sampai dengan pagi melakukan hubungan radio telephon dengan perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.  Disamping itu, program siaran Radio Rimba Raya tidak luput juga program siar dakwah Islamiyah. Siaran Radio Rimba Raya dapat didengar jelas keberbagai negara, seperti di Semenanjung Malaysia, Singapura, Saigon, Manila, New Delhi, bahkan di Australia dan dibeberapa bagian Eropah.  (Mahmud Ibrahim /2007).
Komunikasi Lintas Negara
Radio Rimba Raya, disamping memiliki program siaran yang dapat membangkitkan semangat juang anak bangsa serta membangkitkan suara-suara dunia yang mendukung keutuhan dan kadaulatan Republik Indonesia, Radio Rimba Raya agar dapat didengar dunia menggunakan komunikasi lintas negara, yaitu komunikasi dengan berbagai bahasa yang ada di dunia. Sebut salah seorang tokoh masyarakat yang merupakan anggota  pejuang mujahidin dari Tanah Gayo, yang dikirim untuk wilayah Langkat dan Medan Area bernama  Khalifah, Tgk. M. Arifin, beliau mengatakan, pada saat itu Radio Rimba Raya bersuara dengan berbagai bahasa yang ada didunia, diantaranya berbahasa, Inggris, Melayu, Arab, Hindia, Cina, Belanda, ( Khalifah, Tgk. M. Arifin / 2012). Dari pemaparan beliau, hal senada juga terhadap sumber-sumber yang didapatkan penulis mengenai komunikasi lintas negara yang dilakukaukan oleh oprator Radio Rimba Raya  pada masa itu. Radio Rimba Raya juga dikenal radio perjuanagan kemerdekaan Divisi X berkedudukan ditengah rimba jalur Biren- Takengon yang menyatakan negara Indonesia masih ada, masih ada wilayah daerah Aceh yang masih utuh, hal ini untuk menjawab suara radio Belanda Hilversum yang mengatakan Indonesia telah tiada. Radio Rimba Raya ini menggunakan signal calling “ Suara Indonesia Merdeka”,  pada tiap malam saat mengudara, Radio Rimba Raya menggunakan enam bahasa, yaitu, Inggris, Belanda, Indonesia, Urdu/ Hindustan, bahasa Arab, dan bahasa China. Penyiar bahasa Inggris Jhon Edward berpangkat letnan, yang di Aceh dikenal dengan nama Abdullah Inggris, bahasa Urdu/ Hindustan yang sararan informasi ke India, disampaikan oleh Chandra mantan tentara sekutu yang berpihak kepada Indonesia ( waspada/ 15/6/2015)
Penutup
Seiring dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang menginjak 70 tahun Indonesia merdeka, maka Radio Rimba Raya sudah tidak bersuara dengan lantangnya, oleh karena itu harapan bersama rakyat Indonesia, monumen Radio rimba raya dapat segera dijadikan munumen pelajaran bagi generasi muda Indonesia yang dilengkapi sarana pendidikan, perpustakaan sejarah, museum dan pasilitas pendidikan lainya sebagaimana yang telah dicita-cita dahulu. Disamping itu, penulis membaca dalam satu sumber terpercaya, bahwa pemancar Radio Rimba Raya sekarang di tempatkan di museum Angkatan Darat Yogyakarta, agar dikembalikan ke Tanah Gayo, sebagai tempat wadah pendidikan sejarah  bagi generasi muda di ujung barat Indonesia dalam mengenang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Penutup, penulis mengutip dari sebuah buku karangan Mahmud Ibrahim yang berjudul, Mujahid Dataran Tinggi Gayo, yang menuliskan, bahwa bangsa yang besar selalu menghargai jasa-jasa para pahlawanya. Sebagai generasi yang menjalankan amanat Bangsa ini kita sepakat terus berupaya mengenang dan menghargai para bunga Bangsa, para Mujahid Dataran Tinggi Gayo.
*Dosen Komunikasi Islam STAIN Gajah Putih Takengon
Rabu, 12 Agustus 2015

Dikritik, Jokowi Luncurkan Logo HUT ke-70 Kemerdekaan RI di Sabang


 

Banda Aceh, Obsessionnews – Rencana Presiden Jokowi meluncurkan logo peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI di Tugu Kilometer Nol, Kota Sabang, Provinsi Aceh, Selasa (10/3), dikritik oleh Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Aceh.

Menurut Ketua PA GMNI Aceh Yunadi Harun, kunjungan Jokowi ke Sabang kurang tepat jika dikaitkan dengan ruh kemerdekaan. Sebaliknya, kunjungan Jokowi ke Sabang tepat apabila dikaitkan dengan salah satu lagu perjuangan, Dari Sabang Sampai Merauke.

“Kalau bicara tentang kemerdekaan yang nyata dan sejarah kemerdekaan, daerah yang tepat untuk peluncuran logo peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI adalah Kabupaten Bener Meriah, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah,” kata Yunadi kepada obsessionnews.com, di Banda Aceh, Senin (9/3).

Yunadi menjelaskan, di Bener Meriah terdapat ikon sejarah kemerdekaan yang terlupakan, salah satunya adalah Tugu Radio Rimba Raya. Radio Rimba Raya memiliki peran besar dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Radio Rimba Raya menjadi penyelamat bangsa Indonesia saat aaat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah kepemimpinan Syafrudin Prawiranegara, atau tepatnya saat Agresi Belanda kedua tahun 1948.

Saat itu, menurutnya, hampir semua wilayah Indonesia telah dikuasai Belanda, kecuali Aceh. Ya, hanya Aceh yang belum belum ditaklukkan oleh Belanda. Dan melalui Radio Rimba Rayalah disuarakan ke dunia internasional dengan lima bahasa bahwa Indonesia masih ada, pemerintahan Indonesia masih ada.

“Merunut pada sejarah yang terlupakan itu, seharusnya peluncuran logo peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI dilakukan di Tugu Rimba Raya. Manakala Jokowi hadir di Tugu Rimba Raya, saya jamin Jokowi bisa merasakan ruh kemerdekaan itu. Paling tidak bangsa ini akan layak dikatakan bangsa yang besar, karena mampu menghargai sejarahnya, sebagaimana yang diucapkan Bung Karno bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah,” ujar Yunadi. (Agung Sanjaya)

KNPI Bener Meriah Desak Perbaikan Tugu Radio Rimba Raya



 
 
By  on February 13, 2015

Redelong | Lintas Gayo- Acara deklarasi pemuda Bener Meriah yang dimotori oleh KNPI dan digelar di lokasi Tugu Radio Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, mendesak agar pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat segera memperbaiki dan mengaktifkan kembali radio di tugu tersebut, serta melengkapi fasilitas sebagai tempat bersejarah di sana.
Permintaan tersebut seperti yang dikatakan Ahmad Suheru, Ketua DPD II (dua) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bener Meriah, Rabu (11/2) di lokasi Tugu Radio Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Hal tersebut juga berkaitan dengan rasa nasionalisme generasi muda dewasa ini mulai terkikis. Seperti yang telah kita ketahui, nasionalisme yang hilang dapat menjadi satu ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, dengan mengingat dan menggali kembali sejarah Radio Rimba Raya dapat membantu rasa cinta para pemuda terhadap Indonesia.
“KNPI sebagai lembaga perhimpunan bagi organisasi kepemudaan, dengan berbagai corak dan karakter semua ormas yang ada di dalamnya. Organisasi ini siap menjadi perekat semua kalangan pemuda yang tergabung dalam ormas, untuk bersama menjaga keutuhan negara,” ungkap Ahmad Suheru.

Dia juga menyebutkan, acara deklarasi dilakukan guna menggagas dan mengingatkan kembali sejarah radio rimba raya, yang berdiri tegak di gayo.”Bahwa di tanah gayo ini, pernah menjadi tempat bersejarah. Apabila radio ini tidak mengudara pada tahun 1948 dan mengudara untuk menjelaskan bahwasanya negara republik indonesia masih ada. Maka tidak pernah ada yang tau, kalau Indonesia masih ada,” tuturnya, menceritakan sekelumit sejarah radio rimba raya.
Dilanjutkan, berbicara tugu rimba raya adalah berbicara masalah negara. Namun saat ini semua tertinggal. Sungguh ironis anak bangsa indonesia saat ini ketinggalan serta kehilangan rasa toleransi dan gotong royong, akibat mereka melupakan sejarah bangsa ini.
Ditempat yang sama, Ketua KNPI Aceh Jamaluddin, ST saat memberikan kata sambutannya mengucapkan terimakasih, karena pemuda Bener Meriah telah melaksanakan kegiatan ini.
Menurutnya, dari kalimat yang pernah dipancarkan lewat radio rimba raya membuat negara yang ada di asia dan eropa saat itu, tidak serta merta mengakui kedaulatan Belanda, dan sejarah ini penting bagi bangsa Indonesia.

Usai kegiatan deklarasi dan mengenang sejarah radio rimba raya, KNPI Bener Meriah melakukan sejumlah rumusan kegiatan untuk menindaklanjuti hasil pertemuan mereke. Diantaranya, dilanjutkan memperjuangkan pembangunan tugu rimba raya dan fasilitasnya dari kabupaten, provinsi hingga pusat.(Kr)

“…Radio RIMBA RAYA, Berperan BESAR Bagi KEMERDEKAAN Indonesia…”


 

 

Rate This

"...Ilustrasi Menara Pemancar Radio dan Telekomunikasi..."
“…Ilustrasi Menara Pemancar Radio dan Telekomunikasi…”Add caption

“…NRMnews.com –TAKENGON, Sejarah dan kiprah perjuanganRadio Rimba Rayadiusulkan masuk dalam kurikulum departemen pendidikan nasional, dengan cara itu diharapkan kiprah radio yang banyak berjasa dalamkemerdekaan Indonesia itu juga diketahui oleh generasi muda penerus bangsa.

Bupati Bener Meriah Ruslan Abdul Gani mengatakan kontribusi dan jasa radio selama perang penjajahan Belanda selama ini tidak banyak diketahui pelajar, sehingga ditakutkan akan terlupakan seiring berjalanya waktu.

Dijelaskan, Radio itu sering menyiarkan berita kepada dunia luar termasuk membantah klaim Belanda yang telah menguasai Indonesia, namun dari belantara hutan Gayo, radio tersebut menyuarakan kepada dunia bahwa negara ini masih ada.

“…Seperti Pesan Bung Karno bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawanya, untuk itu dalam menghargai jasa monument ini agar tidak hilang sejarahnya,kita minta pemerintah pusat memasukanya dalam kurikulum pendidikan nasional…”, kata Ruslan, pada hari Kamis (19/03/2015).

Dalam mengapresiasi perjuangan Radio rimba Raya, sebuah monument dibangun dikawasan Desa Rimba raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, yang diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Bulog, Bustanil Arifin pada 27 Oktober 1987 silam, namun kondisinya terlihat kurang terawat kendati pemerintah kabupaten setempat telah melakukan beberapa kali proses renovasi.

“…Jika usulan untuk masuk kurikulum pendidikan nasional, perhatian pemerintah provinsi maupun pusat bisa lebih besar lagi, termasuk untuk pemugaran, sehingga menjadi salah satu lokasi wisata di dataran tinggi Gayo, yang nyaman dikunjungi para wisatawan yang datang…”, pungkasnya.

( Oleh : Red.NRMnews.com / Dwi Pravita – Editor : A.Dody.R )

Mengapa Yogyakarta Harus Tetap Istimewa; Refleksi Orang Aceh


Beberapa waktu yang lalu, saya menulis di sebuah media on line di Aceh yang berjudul Aceh, Jogja dan NKRI (www.acehinstitute.org/12 Maret 2011). Dalam tulisan tersebut, saya mengatakan bahwa saat ini hanya orang Aceh yang paling memahami perasaan masyarakat Yogyakarta, ketika Pemerintah Pusat mencoba hendak mereposisi klausul yang paling krusial dalam keistimewaan Yogyakarta, yaitu persoalan penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur melalui RUUKY.
Mengapa hanya orang Aceh saja yang dapat memahami suasana psikologis rakyat Yogyakarta tersebut? Sederhana saja jawabannya, yaitu karena dua daerah ini memiliki akar sejarah yang sama pada masa-masa awal dan pembangunan negara ini. Hanya Aceh dan Yogyakarta yang menyumbangkan saham terbesar di saat Republik ini terancam eksistensinya.
Aspek kesejarahan yang memiliki sisi psikologis yang kuat inilah yang kemudian coba diabaikan oleh pemerintah pusat di dalam penyusunan RUUKY. Melakukan perubahan model suksesi dengan menghapuskan penetapan adalah sangat menyakitkan bagi masyarakat Yogyakarta. Hal yang kurang lebih sama seperti sakitnya orang Aceh ketika sumbangan untuk eksistensi Republik ini dikhianati dengan peleburan propinsi Aceh ke Sumatera Utara yang akhirnya menimbulkan gerakan Darul Islam.
Di dalam pikiran orang Aceh, hal tersebut sangat tidak bisa diterima, setelah apa yang diberikan untuk Republik ini; Menyumbang dua pesawat Dakota, yang kemudian menjadi cikal bakalnya perusahaan maskapai Garuda, sebagai modal diplomasi pada masa Revolusi. Kemudian menolak ajakan Sultan Mansyur untuk bergabung mendirikan Negara Sumatera Timur. Serta  terjun  dalam Perang Medan Area dan menjadikan Radio Rimba Raya di Takengen sebagai corong propaganda bahwa Republik ini masih ada.
Kesadaran akan sejarah tersebut itulah mengapa membuat saya berada pada ruang kesimpulan untuk mengatakan bahwa yang paling memahami kekecewaaan rakyat Yogyakarta secara baik hanya orang Aceh adalah tepat kiranya.
Bagi saya Keraton Yogyakarta telah melakukan sebuah keputusan besar dalam sejarah dengan mengikhlaskan dirinya untuk menyatakan sebagai bagian dari Republik baru yang sebenarnya secara hukum internasional belum memiliki teritorial, tepat kurang dari sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Padahal pada saat yang sama, Keraton Yogjyakarta adalah sebuah wilayah yang independen, otonom dan memiliki struktur pemerintah yang mapan, serta memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan heroik.
Untuk lebih memahami setting itu, saya mencoba memasuki relung waktu lebih jauh untuk memahami pada sebuah sosok Sultan Hamengkubuwono IX. Dia adalah seorang raja Jawa. Sebagai seorang raja, dia memiliki kekuasaan dan kharisma yang tidak saja besar bagi rakyatnya, namun juga bagi musuh-musuhnya, sehingga Belanda dan Jepang-pun tidak sedikit pun berani menyentuhya. Namun sebagai negarawan, Sultan HB IX memiliki visi yang jauh ke depan. Pilihannya untuk bergabung dengan NKRI adalah menunjukkan betapa Sultan HB IX memiliki visi kebangsaan yang jauh ke depan. Tidak hanya sekadar mengeluarkan maklumat bergabung itu, Sultan HB IX menjadi pihak terdepan dalam mengasuh bayi yang bernama NKRI sampai akhirnya mampu berdiri dan bahkan berlari.
Kesemua hal yang diatas itu perlu memang untuk saya tulis agar elite politik yang berada di Jakarta menjadi paham betul mengenai posisi sejarah. Sejarah bagi sebuah bangsa hemat saya harus-lah dipandang sebagai sumber etika dalam membangun sebuah konsensus kenegaraan dan kebangsaan. Sebab  tanpa sejarah maka setiap bangunan kebangsaan akan rapuh adanya, dan pengabaian aspek ini sama saja hendak membawa setiap bangsa utuk terjun bebas sebebasnya ke titik nadir.
Bila demikian keadaannya, maka sepertinya harus kembali diingatkan terus menerus kepada yang mengurus negara ini di pusat sana, bahwa bangsa ini tidak berdiri di tanah kosong, akan tetapi tumbuh diatas tanah yang sudah memiliki sejarah yang lebih lama, peradaban yang lebih tua serta kebudayaan yang berakar (baca; old nation). Kontribusi masing-masing wilayah-pun yang telah bersepakat hidup dalam satu bangsa baru, yang bernama Indonesia ini, haruslah dihargai sedemikian rupa. Ketatanegaraan kemudian haruslah disusun dengan melihat terlebih dahulu keunikan yang dimiliki oleh old nation  itu sendiri.
Bila hal itu dapat dilakukan, maka kita dapat menikmati hidup sebagai satu bangsa yang saling menghargai, sehingga polemik keistimewaan Yogyakarta ini adalah yang terakhir kalinya terjadinya di negeri ini. Semoga.
08. January 2015 by bungalkaf
Categories: esai | Tags:  |

Jumat, Universitas Al-Azhar Indonesia Bedah Film Dokumenter Radio Rimba Raya






Posted by: lintasgayo.co in Keber Ari RantoPolitikSosial BudayaTerbaru 
Jakarta-LintasGayo.co : Ada kabar gembira buat pecinta film dokumenter Radio Rimba Raya. Jurusan Teknik Elektro Universitas Al-Azhar Indonesia akan membedah film dokumenter Radio Rimba Raya. “Insyaallah hari Jumat (19/12/2014), mulai pukul 13.00 WIB, di ruang CIMB Niaga, lantai 2,” kata Ikmal Gopi, sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya melalui blackberry messenger, Rabu (17/12/2014)
Dalam bedah film dokumenter Radio Rimba Raya itu, Ikmal Gopi akan tampil sebagai pembicara. “Saya akan jelaskan, bagaimana besar dan pentingnya peran Radio Rimba Raya dalam menyuarakan pesan-pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia kepada dunia. Ini sejarah yang harus diketahui publik. Karena, menyangkut eksistensi bangsa ini,” sebutnya.
Pada saat itu (1948-1949), jelas Ikmal, Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia. Belanda mengumumkan kepada dunia lewat radio Hilversum (milik Belanda) bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi. Akan tetapi, dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Radio Rimba Raya membantah keras berita tersebut, dan menegaskan bahwa Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), dan Manila (Filipina). Bahkan, Australia dan Eropa.
“Akibat berita yang disuarakan itu, banyak negara di dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan Radio Rimba Raya merupakan pukulan “KO” bagi Pemerintahan Belanda,” tegasnya.
Bagi para pecinta film dokumenter Radio Rimba Rayat, sambungnya, lebih lanjut dapat mendaftarkan diri ke nomor 087780543506 (Tama). “Sepertinya, peserta dibatasi. Makanya, mesti cepat daftar. Nanti, panitia bakal menyediakan snack dan sertifikat gratis,” ungkapnya.
(Genali)